JAMBI — Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi yang juga Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, S.T., M.M., M.T., mendesak pemerintah untuk memperkuat sistem transportasi multimoda secara terpadu. Langkah ini dinilai krusial guna menjaga ketahanan konektivitas jalur logistik utama Jawa–Sumatera agar tidak lumpuh total saat terjadi gangguan akibat bencana alam.
Pernyataan tersebut disampaikan Ivan menyikapi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu disrupsi transportasi nasional. Menurutnya, insiden kebencanaan alam harus dijadikan momentum evaluasi besar-besaran terhadap tingkat kerentanan sistem transportasi, khususnya ketergantungan yang berlebihan pada satu jalur utama penyeberangan atau koridor tunggal.
“Keselamatan harus menjadi prinsip utama. Tetapi ketika satu moda berhenti, konektivitas tidak boleh ikut berhenti. Sistem transportasi nasional harus memiliki kemampuan untuk mengalihkan beban secara cepat dan terencana ke moda lainnya,” tegas Ivan Wirata, Senin (7/9/2026).
Ia menjelaskan, kelumpuhan pada satu sektor moda transportasi secara otomatis akan memicu efek domino (multiplier impact) terhadap moda lainnya. Pembatasan atau penutupan jalur penerbangan misalnya, langsung memaksa pergerakan masif penumpang dan arus barang beralih secara mendadak ke moda transportasi darat maupun laut. Tanpa perencanaan kontinjensi yang matang dari titik keberangkatan, penumpukan parah dipastikan akan memacetkan simpul-simpul transportasi vital seperti pelabuhan, terminal, hingga jalan raya.
“Gangguan satu moda bisa memindahkan beban ke moda lain. Kalau tidak dikendalikan dari awal, penumpukan terjadi di simpul-simpul transportasi dan akhirnya berubah menjadi risiko nasional,” ujarnya mengingatkan.
Berdasarkan data infografik kebijakan per 6 September 2026, episode erupsi yang berlangsung secara terus-menerus selama kurang lebih 25 jam telah memaksa delapan bandar udara ditutup sementara. Kondisi darurat ini berdampak langsung pada 467 penerbangan—yang mencakup 58 penerbangan internasional dan 409 penerbangan domestik—serta mengakibatkan sekitar 150.000 penumpang tertahan. Di sisi lain, lintas penyeberangan utama Merak–Bakauheni tetap dioperasikan secara ekstra ketat di bawah pengawasan ketat faktor keselamatan pelayaran, tebalnya abu vulkanik, jarak pandang, hingga kondisi gelombang laut.
Terapkan Lima Langkah Sistem Kontinjensi Multimoda
Sebagai langkah antisipasi krisis yang komprehensif, Ivan mendorong penerapan lima pilar sistem kontinjensi multimoda, yaitu: pantau, lindungi, alihkan, prioritaskan, and pulihkan.
- Pantau: Pengawasan secara intensif selama 24 jam terhadap parameter aktivitas vulkanik, sebaran abu, kondisi cuaca, dinamika perairan, serta rilis informasi penerbangan resmi seperti SIGMET dan NOTAM.
- Lindungi: Menetapkan batasan operasional yang tegas demi faktor keselamatan mutlak, mencakup parameter kapan waktu layanan transportasi wajib dibuka, dibatasi, atau dihentikan total.
- Alihkan: Melakukan rekayasa pengalihan moda secara terstruktur dan terencana sejak dari kota titik asal keberangkatan, sehingga lonjakan penumpang tidak menumpuk secara bersamaan di satu simpul transit saja.
- Prioritaskan: Memberikan prioritas distribusi mutlak kepada angkutan logistik strategis nasional, utamanya pasokan pangan, energi, obat-obatan, bahan baku industri, serta kebutuhan esensial lainnya.
- Pulihkan: Melakukan tahapan pemulihan layanan secara bertahap yang didasarkan pada verifikasi hasil uji keselamatan, audit kelaikan sarana-prasarana, serta target waktu normalisasi yang terukur.
“Kita tidak boleh menunggu situasi benar-benar kacau baru bergerak. Ketika indikator sudah menunjukkan peningkatan risiko, sistem alternatif harus sudah siap,” cetusnya.
Gagas Koridor Alternatif dan Peran Strategis Jambi
Lebih lanjut, dalam kapasitasnya sebagai pimpinan legislatif daerah sekaligus pakar transportasi, Ivan menyoroti bahwa Selat Sunda melalui koridor Merak–Bakauheni selama ini memikul beban terlampau berat sebagai urat nadi tunggal konektivitas ekonomi Jawa–Sumatera. Ketergantungan struktural ini dinilai sangat rentan melahirkan krisis pasokan apabila wilayah tersebut terisolasi akibat bencana.
Oleh karena itu, ia mengusulkan penerapan konsep multiple gateway (gerbang alternatif jamak) dengan cara mengoptimalkan jalur-jalur alternatif lain yang memiliki karakter geografis berbeda guna mendistribusikan beban logistik nasional.
Dalam kerangka strategis tersebut, Provinsi Jambi dinilai memiliki posisi dan peluang emas untuk mengambil peran sebagai gerbang alternatif logistik utama bagi wilayah Sumatera bagian tengah. Salah satu gagasan konkret yang didorong untuk dikaji mendalam melalui feasibility study dan proyek percontohan adalah pengaktifan koridor laut Marunda–Kuala Jambi.
“Jambi bukan untuk menggantikan Merak–Bakauheni. Jambi harus diposisikan sebagai gerbang alternatif yang memperkuat sistem. Kalau satu jalur terganggu, kita punya pilihan lain. Itulah makna sebenarnya dari resiliensi transportasi,” jelas Ivan.
Pengembangan koridor maritim ini diyakini mampu memangkas beban logistik Selat Sunda, merajut efisiensi distribusi antara pusat-pusat produksi sentra dengan pasar tujuan, serta menghadirkan jalur penyangga (backup route) yang andal bagi rantai pasok nasional.
Satu Komando dan Satu Data Lintas Lembaga
Menutup pandangannya, Ivan menekankan bahwa ketahanan sistem transportasi mutlak memerlukan terbangunnya koordinasi lintas lembaga yang solid. Seluruh pemangku kepentingan—mulai dari Kementerian Perhubungan, PVMBG, BMKG, BNPB, AirNav Indonesia, ASDP, Pelindo, KSOP, BPTD, para operator moda, hingga pemerintah daerah—harus melebur dalam satu kerangka koordinasi terintegrasi.
“Konsep yang diperlukan adalah satu komando, satu data, dan satu informasi publik,” tegasnya.
Dengan prinsip transparansi data tunggal tersebut, setiap informasi krusial mengenai penutupan rute, skema pengalihan arus, kapasitas muat, hingga pemulihan layanan dapat disebarluaskan secara seragam, cepat, dan akurat kepada publik.
“Resiliensi transportasi bukan sekadar memiliki infrastruktur yang kuat. Yang kita butuhkan adalah sistem yang mampu mengantisipasi, beradaptasi, menjaga konektivitas minimum, and kemudian pulih secepat mungkin ketika krisis terjadi. Jangan tunggu krisis baru menyiapkan jalur alternatif; saat normal justru harus kita uji dan siapkan,” pungkasnya. (Adv)





















































































